gontha.com

Sukses dan Arogansi (Success Breeds Arrogance)

Writer :Antoni Dio Martin (edited by) received from a Friend.
Publisher :Gontha.com terjemahan dalam bahasa Indonesia untuk dibaca-ditekuni.didalami
Updated :3.06.2008 00:00

Gontha.com terjemahan dalam bahasa Indonesia untuk dibaca-ditekuni.didalami

 

Sukses & Arogansi



"Success can lead to
arrogance. When we are arrogant, we quit listening. When we quit listening,
we stop changing. In today's rapidly moving world, if we quit changing, we
will ultimately fail."

(Sukses bisa membuat kita jadi arogan. Saat kita
arogan, kita berhenti mendengarkan. Ketika kita berhenti mendengarkan, kita
berhenti berubah. Dan di dunia yang terus berubah dengan begitu cepatnya
seperti sekarang, kalau kita berhenti berubah, maka kita akan gagal).

Itulah sisi negatif dari kesuksesan, yakni arogansi. Arogansi muncul saat
seseorang merasa diri paling hebat, paling luar biasa, dan paling baik
dibandingkan dengan yang lainnya. Penyakit mental ini bisa menjangkiti apa
dan siapa saja, mulai dari organisasi, produk, pemimpin, sampai orang
biasa. Khusus pada tulisan ini, kita akan membicarakan soal manusianya.

Orang sukses lalu bersombong ria sebenarnya patut disayangkan. Bayangkan
saja, saat berjuang keras menggapai kesuksesan, mereka begitu terbuka untuk
belajar. Mereka mau mendengarkan. Mereka mau berjerih payah, berani hidup
susah, dan mengorbankan diri. Bahkan, mereka tampak sangat 'merakyat'
hidupnya. Akan tetapi, itu dulu. Sayang sekali, saat kesuksesan datang,
mereka lupa diri. Mungkin dia akan berkata, "Saya sudah berhasil mencapai
yang terbaik. Sekarang, Andalah yang harus mendengarkan saya. Saya tidak
perlu lagi mendengarkan Anda."



Hal itu diperparah lagi ketika mereka dikelilingi oleh para 'yes man' yang
tidak berani angkat bicara soal kekurangan orang ini. Hal ini membuat orang
itu semakin 'megalomania' , pongah, angkuh, dan egois. Ia terbelenggu oleh
kesuksesannya sendiri. Ia tidak pernah belajar lagi.


Saya teringat dengan seorang klien saya. Sebagai seorang pebisnis, dia
menceritakan susah payahnya membangun bisnisnya. Cerita yang mengharukan
sekaligus heroik ketika dia harus tidur di kolong jembatan saat tiba di
Jakarta ketika remaja. Dengan susah payah dia merangkak dari bawah untuk
bertahan hidup. Menikah tanpa uang
sepeser pun. Hidup di rumah kontrakan kecil. Akan tetapi, dia tidak patah
arang. Dia mengamati cara kerja orang sukses, mencontoh, dan memodifikasi
sendiri produknya. Sekarang, dia pun berjaya. Tiga pabrik besar ada di
genggamannya.

Namun, sayang sekali. Perusahan itu sedang diterpa badai masalah internal.


Pemicunya tak lain adalah sikap pemimpin yang arogan. Dia otoriter dan
antikritik.

"Kalau saya bisa, kalian juga harus bisa," katanya pongah. Dia
pun menolak ide-ide baru. Dia mengelola perusahaan dengan serampangan. Turn
over karyawan pun tinggi.

Sisanya hanya kelompok para 'penjilat' yang tidak
berani melawan.

Dia menginginkan anak buahnya di-training. Padahal, dia
sendiri yang perlu up date diri dengan training.

Arogansi bisa menghampiri siapa saja. Termasuk seorang pendidik, guru,
dosen, yang tiap hari memberi suatu bagi orang lain. Saat menjalani kursus
panjang di Inggris, saya pernah mendengar kisah tentang seorang trainer
yang begitu arogan. Dia sempat membuat banyak orang berdecak kagum.
Buku-buku best seller pun lahir di tangannya. Akan tetapi, arogansi
membuatnya 'dibuang' dari komunitas di negaranya. Celakanya, sang trainer
menyalahkan para rekannya. Dia pun dikelilingi oleh mereka yang selalu
berkata 'ya' padanya.

Dari situ, kita belajar banyak untuk hati-hati.

Kesuksesan jangan membuat
kita arogan dan cenderung self centered serta tidak mau mendengarkan orang
lain.

Dunia begitu mengenal sosok Mao, Hitler, ataupun Stalin. Mereka
berjuang dari basis bawah menuju pucuk kepemimpinan. Mereka pun berjuang
untuk perubahan di masyarakatnya.
Idealisme mereka sangat luar biasa. Orang pun dibuatnya kagum. Namun,
mereka lupa daratan ketika sukses. Mereka memonopoli kebenaran tunggal
alias antikritik dan antipembaruan. Mereka memimpin dengan tangan besi.
Korban pun bergelimpangan dari tangannya. Begitu juga dalam sejarah bisnis.
IBM yang begitu besar dan terkenal pernah mengalami kemerosotan saat
arogansi membekap sikap dan pikiran para pemimpin mereka.

Terjebak retorika

Namun, itulah yang terjadi apabila orang berhenti belajar dan merasa diri
sudah selesai. Tanpa dia sadari, lingkungannya terus belajar, berinovasi,
dan berkembang. Sementara, dia mandek di posisinya. Akibatnya, kue
kesuksesan yang dia peroleh lama-kelamaan menjadi basi. Tanpa sadar,
kompetitor mereka bergerak jauh meninggalkan
dirinya di belakang. Mereka terjebak dalam retorika, kalimat, jurus yang
itu-itu saja alias usang. Arogansi telah menutup hati dan pikirannya untuk
kreatif menemukan jurus dan tip-tip baru mempertahankan sekaligus
mengembangkan kesuksesannya. Di sinilah, arogansi berujung pada malapetaka
dan kehancuran.


Jadi, bagaimanakah tipnya agar kesuksesan kita tidak berubah menjadi arogansi?

 

Saya menyebut tip ini dengan kata AWAS!

Pertama :
Aware (sadar)
dengan sikap dan tingkah laku kita selalu. Meskipun sudah sukses, kita
perlu memberi waktu untuk menyadari sikap dan perilaku kita di mata orang
lain. Selalulah sadar apakah nada dan ucapan serta tindak tanduk kita
sekarang semakin membuat banyak orang lain terluka? Apakah kita masih tetap
menghargai orang lain? Apalagi orang-orang yang telah turut membawa Anda ke
level sukses sekarang, apakah Anda hargai? Jangan sampai, tatkala masih
bersusah payah, kita begitu respek, tetapi setelah sukses justru
mencampakkan mereka.

Kedua:

Waspadai umpan balik yang hanya menghibur kita tetapi tidak membuat
kita belajar lagi. Hati-hati dengan orang di sekeliling kita yang hanya
mengatakan hal bagus, tetapi tidak berani memberikan masukan yang baik.
Kadang, masukan negatif juga kita perlukan demi perkembangan, sesukses apa
pun kita.

Ketiga:

Awasi dan peka dengan perubahan yang terjadi. Dalam buku Who Moved
My Cheese disimpulkan bahwa kita harus selalu mencium keju kita, apakah
sudah basi ataukah mulai diambil orang lain. Kita pun harus terus mencium
dan peka bagaimana orang lain mengembangkan dirinya serta bisa jadi ancaman
bagi kita. Jangan pula merasa diri paling hebat dan lupa belajar.

Keempat:

Sopan dan rendah hati untuk belajar dari orang lain. Ada banyak
artis yang ketika belum terkenal sikapnya ramah dan baik. Namun, setelah
sukses, ia menjadi sangat sombong, angkuh, ketus, dan bersikap antisosial.

Di atas gunung ada awan....
Di atas awan ada langit....
Di atas langit masih ada langit yang lain....

_

 

 

Copyright © 2005 Gontha.com, All Rights Reserved