gontha.com

Pananggulangan Problem Indonesia

Writer :Peter F Gontha
Publisher :Gontha.com
Updated :26.04.2000 00:00

Gontha.com
July 22, 1997 awal mulanya problem Asia dimulai dari Thailand. Problem di Indonesia akan menyusul. Itu yang saya prediksikan. Namun banyak yang tidak percaya. banyak yang mengatakan bahwa Indonesia tidak akan terkena penyakit menular yang sangat serius ini. Banyak yang mengatakan pemerintah cukup kuat, stabil dan dapat mencegah wabah krisis ini menular ke Indonesia. Jangan takut…!!!!!! pemerintah President Soeharto cukup pengalaman..

Saya katakan pada saat itu: Siapa pun tak akan dapat mengatasinya. bahkan Clinton ataupun pemimpin kuat dan secerdas apapun tak akan dapat mengatasinya. Mulainya krisis di Asia sebetulnya terjadi karena Cina pada tahun 1994 melakukan devaluasi mata uang Juan. Tidak ada yang sadar bahwa nilai kompetetip Cina melundjak sebesar 30%-40% dan cadangan devisanya mengalami kenaikan diluar dugaan.

Dilain pihak, negara Asia Utara dan Asia Selatan/Tenggara mempunyai masalahnya sendiri-sendiri.

Jepang dengan struktur perbankannya.
Korea dengan krisis “Corporate debtnya”.
Thailand dengan Country debtnya.
Indonesia dengan Foreign debt dan DSR yang bertambah tinggi,
struktur perbankan yang labil, corporate debt yang terlampau
besar, struktur hukum yang ambur-adul

Achir November 1997 sebanyak 15 bank dilikwidasi. Sesuatu yang tidak dapat dihindarkan..........malapetaka dimulai. December 1997 nilai tukar dollar RP 6700 naik menjadi Rp.16000 pada achir Januari 1998. CBS diperdebatkan. Rupiah menguat ke 7800. Politik menjadi marak. Maret 1998 Jakarta terbakar. Hutang Indonesia membengkak. Negara dilembah kehancuran. Politik maupun ekonomi tak terkendali menuju kekacauan.

APAKAH ADA OBATNYA?

Menurut hemat saya sebetulnya mudah, namun keinginan berpolitik dari mereka yang haus kedudukkan (bukan kekuasaan) tidak dapat dibendung. Siapa yang menderita rakyat banyak. POLITICAL WILL harus ada.

Negara kita ini negara yang sangat kaya sumber alamnya namun lembaga yang ingin mengusainya bermacam macam karena "pemerataan kedududukkan" diatas. Lihat saja sekarang. Para pedagang atau broker jabatan banyak sekali.

Sebagai contohnya:

Pertamina secara organic berada dibawah Menteri Keuangan.
Cadangan minyaknya dibawah naungan Menteri Pertambangan.

P.N.Timah secara organic berada dibawah Menteri Keuangan.
Cadangan timahnya dibawah naungan Menteri Pertambangan.

P.N. Batubara secara organic berada dibawah Menteri Keuangan.
Cadangan Batubara-nya dibawah naungan Menteri Pertambangan.

P.N.gas secara organic berada dibawah Menteri Keuangan.
Cadangan Gasnya dibawah naungan Menteri Pertambangan.

Perusahaan tambang emas secara organic berada dibawah Menteri Keuangan.
Cadangan emasnya dibawah naungan Menteri Pertambangan.

PTP-PTP secara organic berada dibawah Menteri Keuangan.
Lahannya dibawah naungan Menteri Pertanian.

Semua ini warisan sistim zaman Belanda.

Bayangkan, kalau saja kita semua mempunyai persepi yang sama, yaitu seluruh CADANGAN mineral dan potensi hasil bumi kita dimasukkan atau istilah populernya diinjeksi ke dalam Neraca (Balance sheet) perusahaan tersebut diatas. Nilai Asset perusahaan tersebut akan sedemikian rupa besarnya sehingga secara teknis pembukuan, Nilai ASSET perusahaan-perusahaan ini meningkat secara dramatis dan perusahaan tersebut akan menjadi institusi raksasa bertaraf Internasional yang disegani.

Namun tentunya ini harus se-izin kreditur Negara kita, karena mungkin tidak akan diizinkan. (karena mungkin cadangan kekayaan alam kita sudah milik mereka….. ini sindiran lho!).

Privatisasi 20% dari setiap perusahaan akan memasukkan dana bukan satu atau 2 milyar Dollar tapi puluhan mungkin ratusan Milyar Dollar. Problem finasial negara teratasi.

Tapi ……lapangan kedudukkan (bukan lapangan kerja lho!) akan menjadi sempit. Pembagian jatah kedudukan akan terbatas. Mereka yang memimpin perusahaan perusahaan tersebut akan menjadi orang kuat (POWERFULL), bahaya kan, karena undang undang anti korupsi dan eksekusi undang undang tersebut perlu dipertanyakan.

Lihat FREEPORT, mereka dapat melakukan “FUND RAISING” yang begitu besar untuk eksplorasi lahan mereka dengan hanya menjual cerita bahwa cadangan tembaga (emas dalam hal ini) berjuta juta ton. Padahal cadangannya milik Republik Indonesia yang telah dikonsesikan kepada mereka.

Tapi kita takut untuk menjual 20% kepada publik, takut perusahaannya dilarikan keluar negeri. (ini tentunya sindiran lagi … takut bayangan sendiri).

Kalau saja anggota legislatip kita mau bekerja keras untuk memikirkan hal diatas sebagai alternatip, alangkah makmurnya Negara dan Rakyat Indonesia. yang nota bena adalah si pemilik kekayaan alam tersebut.

Negara makmur, Rakyat makmur, Politisi makmur, Pendapatan pajak meningkat, Gaji (bukan upah lho…) Guru naik, pendidikan anak kita terjamin kwalitasnya, korupsi berkurang, terpilah-pilahnya nya Negara dapat dihindari..

(Hanya untuk direnungkan !!!!!!)

Copyright © 2005 Gontha.com, All Rights Reserved