gontha.com

Surat Dicky Iskandar di Nata

Writer :Dicky Iskandar di Nata
Publisher :Majalah mingguan Sinar January 1998
Updated :16.03.2000 00:00

Majalah mingguan Sinar January 1998
Kepada Yth;
Bung Wikrama Abidin
Pemimpin Redaksi,
Majalah Sinar. Jakarta 18-9-98.



Dengan hormat,

Bersama ini saya sampaikan surat pembaca, mohon kiranya dapat dimuat sebagai tanggapan saya atas pemberitaan majalah Sinar.


TANGGAPAN DICKY ISKANDAR DI NATA.


Menanggapi pemberitaan laporan utama majalah Sinar edisi 01 / tahun VI/ 22 September 1998- “ Jurus cuci tangan Peter F Gontha “ dimana didalam artiikel tersebut telah menyinggung nama saya dalam kasus Bank Duta dan Indonesia Forum. Bersama ini saya ingin meluruskan pemberitaan tersebut kedalam proporsi yang sebenarnya oleh karena saya menilai berita tersebut tendensius dan dapat memberikan kesan yang keliru;

1. Peter Gontha tidak pernah terlibat dalam kasus Bank Duta baik secara langsung maupun tidak langsung. Kedudukannya sejak pembuatan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) sampai dengan kehadirannya di persidangan adalah sebagai saksi oleh karena kebetulan ybs adalah nasabah Bank Duta.


2. Bahwa ybs. tidak tahu menahu perihal namanya tercantum sebagai pemegang deposit on call adalah benar adanya, karena ini merupakan rekayasa bagian Treasury Bank Duta untuk menghadapi pemeriksaan Bank Indonesia. Hal ini dibenarkan dalam persidangan berdasarkan keterangan saksi lainnya.

3. Keterangan dalam artikel tersebut yang menjelaskan bahwa “ saya geleng-geleng kepala mendengarkan kesaksian sohibnya “ sangat tendensius memberikan kesan bahwa saya menganggap dia berbohong. Hal ini adalah tidak benar. Yang benar adalah bahwa Peter Gontha telah memberikan kesaksian sesuai dengan kejadian sesungguhnya.


4. Sebagai anggota Executive Committee Indonesia Forum, saya sampaikan bahwa Peter adalah salah satu pencetus ide sedangkan permodalan diperoleh dari para sponsor yang sangat concern terhadap kondisi ekonomi negara kita. Amat di sayangkan bahwa niat baik serta upaya kawan-kawan untuk menghadirkan kembali Indonesia di mata internasional dianggap sebagai batu loncatan untuk kepentingan pribadi. Mau loncat kemana lagi ?

Sebagai seorang yang pernah mengalami “ trial by the press” dan kemudian menjalani hukuman penjara selama 6 tahun karena rekayasa dan sistim peradilan yang “ bengkok” , saya sangat sesalkan pemberitaan Sinar yang sepihak dan tidak berimbang, tanpa proses check and recheck.
Kode etik jurnalistik menjunjung tinggi keseimbangan pemberitaan berdasarkan fakta, dan fakta disajikan secara utuh agar masyarakat dapat menilai sendiri segi positif dan negatif suatu obyek pemberitaan.

Masih segar dalam ingatan saya bahwa PFG adalah sosok yang membidani lahirnya program liputan dan pemberitaan oleh TV swasta dengan “ Seputar Indonesia “ di RCTI ,suatu terobosan bagi televisi swasta untuk menyiarkan berita kepada masyarakat – yang berbeda dengan propaganda pemerintah pada waktu itu. Begitu juga dengan siaran berita radio swasta dengan acara Jakarta round-up di Trijaya FM yang cukup vocal. Dilanjutkan dengan menghadirkan CNN, CNBC dan BBC ke Indonesia melalui DBS ( direct broadcast satellite) yang nyatanya merupakan terobosan yang melampaui batasan geografis dari Indonesia ke seluruh dunia dan sebaliknya. Kejadian penembakan mahasiswa Trisakti, penguasaan gedung MPR oleh mahasiswa sampai dengan lengsernya Pak Harto dapat diliput secara live ke seantero dunia ---dan menghasilkan reaksi dari tokoh-tokoh dunia sampai bergulirnya proses reformasi. Kesemuanya ini melalui tahapan proses yang tidak mudah mengingat sudah mengakarnya kekuasaan Menteri Penerangan yang sudah bercokol selama 15 tahun.

Para musisi yang pernah berlaga di pesta akbar North Sea Jazz Festival selama delapan tahun sesungguhnya dapat bercerita kepada majalah Sinar, betapa bangganya sebagai anak Indonesia untuk dapat dihargai sejajar dengan pemusik internasional seperti Bob James, David Foster . Kenikmatan dan kebanggaan yang diperoleh bukan karena kita mempunyai Mendikbud yang capable melainkan karena mempunyai anak bangsa dengan cita – cita.

Siapapun tidak dapat menyangkal bahwa Peter Gontha adalah kroni-kapitalis selama 14 tahun karena duduk dalam direksi Bimantara. Dengan penyajian fakta yang benar, biarlah masyarakat menilai sendiri positif negatifnya. Yang jelas Gontha bukan anggota FKPPI karena bukan anak tentara, tidak juga anggota DPR/MPR karena tidak bisa berpolitik, tidak pernah menjadi anggota HIPMI , KADIN bahkan duduk dalam pengurus asosiasipun tidak.Padahal bidang usaha yang ditangani cukup banyak. Kenapa? Mungkin karena dia lebih baik kerja keras daripada Munas.

Bagi saya dia lebih reformis dari kebanyakan orang yang sekarang mengaku .

Dicky I.di Nata
Jl. Tulodong B8
Jakarta Selatan.

Copyright © 2005 Gontha.com, All Rights Reserved